UNDANGAN HALAL BIHALAL Oktober 4, 2009
Posted by sarsidi in 1.add a comment
MUSYWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) KIMIA KOTA SURAKARTA
Sekertariat : SMA Negeri 5 Surakarta
* SMA Negeri 5 Jl Lejend Sutoyo ( telp.854751 Surakarta 57134
Surakarta, 05 Oktober 2009
Nomor : 13/MGMP/KIM/2009
Lamp. : -
Perihal : Undangan MGMP Kimia
Kepada Yth.,
Kepala SMA/MA Kota Surakarta
Di Surakarta
Dengan hormat kami beritahukan bahwa MGMP Kimia Kota Surakarta akan mengadakan Halal Bihalal dilanjutkan dengan pertemuan rutin yang kami selenggarakan pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 10 Oktober 2009
Pukul : 07.30 BBWI sampai selesai
Tempat : SMA Negeri 5 Surakarta
Untuk itu kami mohon bantuan Bapak/Ibu Kepala SMA/MA Kota Surakarta menyampaikan informasi ini kepada Bapak/Ibu Guru Kimia yang Bapak/Ibu pimpin dengan kontribusi Rp 20.000,- setiap orang
Demikian atas kerja sama dan bantuan Bapak/Ibu Kepala Sekolah kami mengucapkan terima kasih.
Hormat kami
Ketua MGMP Kota Surakarta
Drs. Ari Harnanto, M.Si
BERUTA DUKA September 1, 2009
Posted by sarsidi in 1.1 comment so far
Asalaamu alaikum Warohmatullohi wabarokatuh,
Inalilahi Wainailaihi Roojiun, Telah meninggal dunia dengan tenang Ibu Sutarti guru kimia SMA batik 1, Istri dari bapak Muji. Pemakaman pada hari ini Selasa Tanggal 01 September 2009. Bila pada waktu hidupnya mempuyai kesalahan mohon untuk dima’afkan. Mudah mudahan Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya( Allohumafirlaha warhamha….) Mudah mudahan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan Iman dan kesabaran. Amiiin.
Minyak Bumi Mei 25, 2009
Posted by sarsidi in Beranda.add a comment

Exsplo Minyak bumi
Minyak bumi bahasa Inggrisnya: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.
Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Komposisi
• 2 Negara penghasil minyak bumi terbesar
• 3 Topik terkait
• 4 Pranala luar
• 5 Buku tentang industri minyak bumi
• 6 Penulis yang membahas industri minyak bumi
[sunting] Komposisi
Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.
Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.
Empat alkana teringan- CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana) – semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C, dan -0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F).
Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah C10
Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di antara C16 sampai ke C20.
Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari “lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal.
Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:
• minyak eter: 40 – 70 °C (digunakan sebagai pelarut)
• minyak ringan: 60 – 100 °C (bahan bakar mobil)
• minyak berat: 100 – 150 °C (bahan bakar mobil)
• minyak tanah ringan: 120 – 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga)
• kerosene: 150 – 300 °C (bahan bakar mesin jet)
• minyak gas: 250 – 350 °C (minyak diesel/pemanas)
• minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
• sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.
MUTU BENSIN
Ketukan adlh suatu perilaku yg kurang baik dr bahan bakar, yaitu pembakaran terjadi terlalu dini sebelum piston berada pd posisi yg tepat. Ketukan menyebabkan mesin mengelitik, mengurangi efisiensi bahan bakar dab dpt merusak mesin.
Utk menentukan nilai oktan, ditetapkan 2 jenis senyawa sbg pembanding yaitu isooktana dan n-heptana.
Isooktana => menghasilkan ketikan paling sedikit, diberi nilai oktan 100.
n-heptana => menghasilkan ketukan plg byk, diberi nilai oktan 0.
Suatu campuran yg tdd 80% isooktana dan dan 20% n-heptana mempunyai nilai oktan 80.
Jd,, utk melihat mutu bensin yg baik, dilihat dari nilai oktannya. Semakin tinggi nilai oktannya, mutu bensin semakin baik.
[sunting] Negara penghasil minyak bumi terbesar
(Diurutkan berdasar jumlah produksi tahun 2006) dan total produksi1nya dalam juta barrel per hari
1. Arab Saudi – 10,665
2. Rusia – 9,667
3. Amerika Serikat2 – 8,331
4. Iran – 4,148
5. Republik Rakyat Cina – 3,858
6. Meksiko – 3,707
7. Kanada – 3,288
8. Uni Emirat Arab – 3,0
9. Venezuela – 2,803
10. Norwegia – 2,786
11. Kuwait – 2,675
12. Nigeria – 2,443
13. Brasil – 2,166
14. Aljazair – 2,122
15. Irak – 2,008
(Diurutkan berdasar jumlah yang diekspor di 2006) dan total ekspor dalam juta barrel per hari
• Arab Saudi – 8,651
• Rusia – 6,565
• Norwegia – 2,524
• Iran – 2,519
• Uni Emirat Arab – 2,515
• Venezuela – 2,203
• Kuwait – 2,150
• Nigeria – 2,146
• Aljazair – 1,847
• Meksiko – 1,676
• Libya – 1,525
• Irak – 1,438
• Angola – 1,365
• Kazakhstan – 1,114
• Kanada – 1,071
Catatan:
1 Total produksi termasuk minyak mentah, gas alam, kondesat dan cairan lainnya.
2 Amerika Serikat mengkonsumsi seluruh minyak yang diproduksinya.
3 Yang dicetak tebal adalah negara-negara anggota OPEC.
Badai Menurunkan Efektifitas Carbon Sink Mei 24, 2009
Posted by sarsidi in Beranda.add a comment
Badai Menurunkan Efektifitas Carbon Sink
Kata Kunci: buangan karbon, Carbon Sink, net ecosystem productivity, perubahan iklim, produktifitas bersih ekosistem, wind thrown
Ditulis oleh Soetrisno pada 12-05-2009
Adanya gangguan terhadap ekosistem alami dapat menyebabkan peningkatan variabilitas keseimbangan karbon secara global. Sebuah penelitian terbaru yang berbahasa Swedia melaporkan bahwa badai dapat mengurangi kadar karbon yang diserap oleh hutan dalam jumlah besar. Adaptasi terhadap perubahan iklim dan kelonggaran merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh program perubahan iklim Eropa (EEPC) pada tahap kedua. Dalam merancang kebijakan terhadap perubahan iklim ini, penting sekali untuk memahami proses penambahan karbon ke dalam atmosfer serta bagaimana menghilangkannya. Penghilangan karbon dari atmosfer ini yang kemudian disebut sebagai carbon sinks atau buangan karbon.
Demikian besarnya peran hutan, sangat terasa fungsinya sebagai penampung buangan karbon, yang tentunya dalam jumlah besar. Jika terjadi gangguan baik yang disebabkan oleh alam maupun lainnya, maka akan terganggu pula fungsinya sebagai penampung/penyerap buangan karbon. Gangguan terhadap hutan tersebut dapat dikatakan sebagai akibat penebangan liar, kerusakan akibat serangga, kebakaran hutan, adanya angin kencang (wind throws) sehingga pohon tercabut/tumbang, terutama sekali kerusakan akibat badai.
Sebuah kajian telah dilakukan untuk mengukur secara langsung bagaimana wind throws mempengaruhi perubahan yang berlangsung secara kontinyu ini. Kajian tersebut dilakukan terhadap badai Gundrun, yaitu badai yang terjadi di bagian selatan Swedia pada bulan Januari 2005. Tujuan kajian tersebut adalah melihat pengaruh badai Gundrun terhadap carbon sink di Swedia.
Akibat adanya badai ini, pertukaran karbon antara hutan dengan atmosfir menjadi berkurang, hal tersebut disebabkan menurunnya kapasitas hutan untuk menyerap sejumlah besar CO2 dari lingkungannya karena tumbangnya pohon sebagai agen carbon sink. Tumbangnya pohon tersebut tentunya akan mengakibatkan proses penguraian dan pembusukan, dimana proses tersebut akan menghasilkan CO2 juga. Kedua faktor tersebut dapat menyebabkan penurunan apa yang dikenal sebagai produktifitas bersih ekosistem atau net ecosystem productivity (NEP).
Kajian tersebut dilengkapi dengan pengukuran NEP pada lokasi yag dipengaruhi oleh badai, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap aliran CO2 antara area wind throw dan atmosfer. Selain itu, data dilengkapi dengan contoh (sample) pepohonan dan data cuaca. Kemudian data di olah dan dibuat model fluktuasi karbon pada area yang terkena badai.
Penelitian tersebut melaporkan, bahwa telah terjadi penurunan jumlah carbon sink di seluruh area wind thrown, dengan perkiraan jumlah sekitar 3 juta ton karbon sepanjang tahun pertama setelah badai tersebut terjadi. Total emisi gas CO2 di Swedia, diketahui sekitar 18 juta ton setiap tahunnya. Hal ini menunjukan penurunan potensi carbon sink dalam jumlah besar. Dengan menggunakan pemodelan data historis, diketahui prakiraan badai Lothar di Eropa tengah tahun 1999 mengurangi kesetimbangan karbon di Eropa sekitar 16 juta ton.
Kajian tersebut memberikan informasi bahwa badai dapat menyebabkan pengurangan yang signifikan pada sistem carbon sink, walaupun terdapat fungsi ketidakpastian seperti berapa lama pengaruh tersebut berlangsung. Keadaan tersebut dapat dikatakan semakin besar wind-throw yang terjadi, maka berkorelasi positif pengaruhnya terhadap efektifitas carbon sink dalam bumi. Artinya, semakin sering badai berlangsung, boleh jadi semakin kecil carbon sink berperan mereduksi CO2 yang dihasilkan. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih terutama bagi pembuat kebijakan dalam kaitannya dengan skenario perubahan iklim.
Sumber : http://www.environmental-expert.com/resultEachPressRelease.aspx?cid=8819&codi=46186
Mekanisme Ledakan Bom Mei 24, 2009
Posted by sarsidi in Beranda.add a comment
Kata Kunci: eksplosif, ledakan, mekanisme ledakan
Beberapa waktu lalu di berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, sering bermunculan kasus peledakan bom di Indonesia. Barangkali kita masih ingat dengan nama Imam Samudra atau Amrozi. Sosok yang namanya melejit pasca peledakan Bom Bali I dan II ini sempat menjadi momok yang menakutkan. Kasus peledakan bom sering kali dikaitkan pada kedua sosok ini.
Namun, tahukah kita bagaimana proses tejadinya ledakan bom ini? Mengapa bisa timbul ledakan?
Tulisan ini tidak bermaksud mengajarkan pembaca bagaimana membuat bom. Namun, bermaksud untuk menjelaskan secara umum bagaimana mekanisme sederhana ledakan bom itu bisa terjadi ditinjau secara kimia.
Dalam istilah kimia, reaksi peledakan ini dikenal dengan nama reaksi eksplosif. Reaksi eksplosif merupakan reaksi kimia yang berlangsung sangat cepat dan berlangsung dalam waktu sangat singkat. Reaksi eksplosif ini akan membebaskan sejumlah energi yang sangat besar. Dalam skala yang besar, reaksi ini mampu menghancurkan benda-benda yang berada dalam radius daya ledaknya. Reaksi inilah yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan ledakan bom.
Reaksi peledakan ini biasanya berlangsung dengan adanya katalis. Katalis inilah yang menyebabkan suatu reaksi kimia berlangsung dengan cepat. Katalis adalah suatu zat yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi tanpa memodifikasi perubahan energi gibbs standar dari suatu reaksi (Admin Alif, 2005).
Platina merupakan salah satu contoh katalis yang digunakan untuk mempercepat terjadinya reaksi antara hidrogen dan oksigen dalam fasa gas. Dari reaksi ini dapat menyebabkan ledakan.
Dari beberapa literatur, diketahui bahwa katalis dapat menghasilkan atom hidrogen dari molekul hidrogen dan atom ini akan menyebabkan terjadinya reaksi rantai yang sangat cepat.
Disamping katalis, reaksi peledakan juga bisa terjadi jika ada nyala api, seperti nyala dari korek api, dan sebagainya. Nyala api ini dapat menjadi pemicu terbentuknya radikal bebas. Dalam suatu mekanisme reaksi, radikal bebas ini dapat menyebabkan reaksi bercabang yang menghasilkan lebih dari satu radikal. Jika reaksi radikal ini terjadi dalam jumlah yang banyak, maka jumlah radikal bebas dalam suatu reaksi akan meningkat. Akhirnya reaksi akan berlangsung sangat cepat dan akan dibebaskan energi yang sangat besar. Selanjutnya terjadilah ledakan.
Albert Einstein pernah memperkenalkan kepada dunia mengenai hubungan antara energi dengan massa dan kecepatan suatu benda yang dikenal dengan persamaan E = M.C2. Jika kita hubungkan dengan reaksi peledakan diatas, didapatkan suatu kesimpulan bahwa suatu reaksi peledakan akan semakin besar jika massa reaktan (zat yang mengalami reaksi) digunakan dalam jumlah besar dengan adanya kecepatan yang sangat tinggi. Einstein mendefinisikan kecepatan disini adalah kecepatan cahaya yang dikuadratkan. Dari penggunaan tersebut terjadinya ledakan yang dasyat.
Dalam skala laboratorium reaksi peledakan ini pun bisa diuji-cobakan. Dari berbagai literatur, di laboratorium terdapat banyak sekali zat-zat kimia yang jika dicampur dapat menyebabkan terjadinya ledakan. Meski ledakan yang terjadi tergolong kecil, namun secara prinsip hampir sama reaksi ledakan lainnya dalam skala besar. Tinggal kita memperbesar konsentrasinya saja. Selanjutnya agar terjadi ledakan, maka ditambahkanlah katalis atau nyala api untuk mempercepat terjadinya reaksi atau pembentukan radikal bebas. Akibatnya akan membebaskan sejumlah energi yang besar.