jump to navigation

Minyak Bumi 25 Mei 2009

Posted by sarsidi in Beranda.
add a comment

Exsplo-minyak-bumi

Exsplo Minyak bumi

Minyak bumi bahasa Inggrisnya: petroleum,  dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.
Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Komposisi
• 2 Negara penghasil minyak bumi terbesar
• 3 Topik terkait
• 4 Pranala luar
• 5 Buku tentang industri minyak bumi
• 6 Penulis yang membahas industri minyak bumi

[sunting] Komposisi
Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.
Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.
Empat alkana teringan- CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana) – semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C, dan -0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F).
Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah C10
Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di antara C16 sampai ke C20.
Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari “lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal.
Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:
• minyak eter: 40 – 70 °C (digunakan sebagai pelarut)
• minyak ringan: 60 – 100 °C (bahan bakar mobil)
• minyak berat: 100 – 150 °C (bahan bakar mobil)
• minyak tanah ringan: 120 – 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga)
• kerosene: 150 – 300 °C (bahan bakar mesin jet)
• minyak gas: 250 – 350 °C (minyak diesel/pemanas)
• minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
• sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.

MUTU BENSIN

Mutu bahan bakar bensin dikaitkan dgn jumlah ketukan (knocking) yg ditimbulkannya dan dinyatakan dgn nilai oktan. Makin sedikit ketukan => makin baik mutu bensin, makin tinggi nilai oktannya.

Ketukan adlh suatu perilaku yg kurang baik dr bahan bakar, yaitu pembakaran terjadi terlalu dini sebelum piston berada pd posisi yg tepat. Ketukan menyebabkan mesin mengelitik, mengurangi efisiensi bahan bakar dab dpt merusak mesin.

Utk menentukan nilai oktan, ditetapkan 2 jenis senyawa sbg pembanding yaitu isooktana dan n-heptana.

Isooktana => menghasilkan ketikan paling sedikit, diberi nilai oktan 100.
n-heptana => menghasilkan ketukan plg byk, diberi nilai oktan 0.

Suatu campuran yg tdd 80% isooktana dan dan 20% n-heptana mempunyai nilai oktan 80.

Jd,, utk melihat mutu bensin yg baik, dilihat dari nilai oktannya. Semakin tinggi nilai oktannya, mutu bensin semakin baik.

[sunting] Negara penghasil minyak bumi terbesar
(Diurutkan berdasar jumlah produksi tahun 2006) dan total produksi1nya dalam juta barrel per hari
1. Arab Saudi – 10,665
2. Rusia – 9,667
3. Amerika Serikat2 – 8,331
4. Iran – 4,148
5. Republik Rakyat Cina – 3,858
6. Meksiko – 3,707
7. Kanada – 3,288
8. Uni Emirat Arab – 3,0
9. Venezuela – 2,803
10. Norwegia – 2,786
11. Kuwait – 2,675
12. Nigeria – 2,443
13. Brasil – 2,166
14. Aljazair – 2,122
15. Irak – 2,008
(Diurutkan berdasar jumlah yang diekspor di 2006) dan total ekspor dalam juta barrel per hari
• Arab Saudi – 8,651
• Rusia – 6,565
• Norwegia – 2,524
• Iran – 2,519
• Uni Emirat Arab – 2,515
• Venezuela – 2,203
• Kuwait – 2,150
• Nigeria – 2,146
• Aljazair – 1,847
• Meksiko – 1,676
• Libya – 1,525
• Irak – 1,438
• Angola – 1,365
• Kazakhstan – 1,114
• Kanada – 1,071

Catatan:
1 Total produksi termasuk minyak mentah, gas alam, kondesat dan cairan lainnya.
2 Amerika Serikat mengkonsumsi seluruh minyak yang diproduksinya.
3 Yang dicetak tebal adalah negara-negara anggota OPEC.

Badai Menurunkan Efektifitas Carbon Sink 24 Mei 2009

Posted by sarsidi in Beranda.
add a comment

Badai Menurunkan Efektifitas Carbon Sink

Kata Kunci: buangan karbon, Carbon Sink, net ecosystem productivity, perubahan iklim, produktifitas bersih ekosistem, wind thrown

Ditulis oleh Soetrisno pada 12-05-2009

Adanya gangguan terhadap ekosistem alami dapat menyebabkan peningkatan variabilitas keseimbangan karbon secara global. Sebuah penelitian terbaru yang berbahasa Swedia melaporkan bahwa badai dapat mengurangi kadar karbon yang diserap oleh hutan dalam jumlah besar. Adaptasi terhadap perubahan iklim dan kelonggaran merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh program perubahan iklim Eropa (EEPC) pada tahap kedua. Dalam merancang kebijakan terhadap perubahan iklim ini, penting sekali untuk memahami proses penambahan karbon ke dalam atmosfer serta bagaimana menghilangkannya. Penghilangan karbon dari atmosfer ini yang kemudian disebut sebagai carbon sinks atau buangan karbon.

Demikian besarnya peran hutan, sangat terasa fungsinya sebagai penampung buangan karbon, yang tentunya dalam jumlah besar. Jika terjadi gangguan baik yang disebabkan oleh alam maupun lainnya, maka akan terganggu pula fungsinya sebagai penampung/penyerap buangan karbon. Gangguan terhadap hutan tersebut dapat dikatakan sebagai akibat penebangan liar, kerusakan akibat serangga, kebakaran hutan, adanya angin kencang (wind throws) sehingga pohon tercabut/tumbang, terutama sekali kerusakan akibat badai.

Sebuah kajian telah dilakukan untuk mengukur secara langsung bagaimana wind throws mempengaruhi perubahan yang berlangsung secara kontinyu ini. Kajian tersebut dilakukan terhadap badai Gundrun, yaitu badai yang terjadi di bagian selatan Swedia pada bulan Januari 2005. Tujuan kajian tersebut adalah melihat pengaruh badai Gundrun terhadap carbon sink di Swedia.

Akibat adanya badai ini, pertukaran karbon antara hutan dengan atmosfir menjadi berkurang, hal tersebut disebabkan menurunnya kapasitas hutan untuk menyerap sejumlah besar CO2 dari lingkungannya karena tumbangnya pohon sebagai agen carbon sink. Tumbangnya pohon tersebut tentunya akan mengakibatkan proses penguraian dan pembusukan, dimana proses tersebut akan menghasilkan CO2 juga. Kedua faktor tersebut dapat menyebabkan penurunan apa yang dikenal sebagai produktifitas bersih ekosistem atau net ecosystem productivity (NEP).

Kajian tersebut dilengkapi dengan pengukuran NEP pada lokasi yag dipengaruhi oleh badai, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap aliran CO2 antara area wind throw dan atmosfer. Selain itu, data dilengkapi dengan contoh (sample) pepohonan dan data cuaca. Kemudian data di olah dan dibuat model fluktuasi karbon pada area yang terkena badai.

Penelitian tersebut melaporkan, bahwa telah terjadi penurunan jumlah carbon sink di seluruh area wind thrown, dengan perkiraan jumlah sekitar 3 juta ton karbon sepanjang tahun pertama setelah badai tersebut terjadi. Total emisi gas CO2 di Swedia, diketahui sekitar 18 juta ton setiap tahunnya. Hal ini menunjukan penurunan potensi carbon sink dalam jumlah besar. Dengan menggunakan pemodelan data historis, diketahui prakiraan badai Lothar di Eropa tengah tahun 1999 mengurangi kesetimbangan karbon di Eropa sekitar 16 juta ton.

Kajian tersebut memberikan informasi bahwa badai dapat menyebabkan pengurangan yang signifikan pada sistem carbon sink, walaupun terdapat fungsi ketidakpastian seperti berapa lama pengaruh tersebut berlangsung. Keadaan tersebut dapat dikatakan semakin besar wind-throw yang terjadi, maka berkorelasi positif pengaruhnya terhadap efektifitas carbon sink dalam bumi. Artinya, semakin sering badai berlangsung, boleh jadi semakin kecil carbon sink berperan mereduksi CO2 yang dihasilkan. Oleh karena itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih terutama bagi pembuat kebijakan dalam kaitannya dengan skenario perubahan iklim.

Sumber : http://www.environmental-expert.com/resultEachPressRelease.aspx?cid=8819&codi=46186

Mekanisme Ledakan Bom 24 Mei 2009

Posted by sarsidi in Beranda.
add a comment

Kata Kunci: eksplosif, ledakan, mekanisme ledakan
Beberapa waktu lalu di berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, sering bermunculan kasus peledakan bom di Indonesia. Barangkali kita masih ingat dengan nama Imam Samudra atau Amrozi. Sosok yang namanya melejit pasca peledakan Bom Bali I dan II ini sempat menjadi momok yang menakutkan. Kasus peledakan bom sering kali dikaitkan pada kedua sosok ini.
Namun, tahukah kita bagaimana proses tejadinya ledakan bom ini? Mengapa bisa timbul ledakan?
Tulisan ini tidak bermaksud mengajarkan pembaca bagaimana membuat bom. Namun, bermaksud untuk menjelaskan secara umum bagaimana mekanisme sederhana ledakan bom itu bisa terjadi ditinjau secara kimia.
Dalam istilah kimia, reaksi peledakan ini dikenal dengan nama reaksi eksplosif. Reaksi eksplosif merupakan reaksi kimia yang berlangsung sangat cepat dan berlangsung dalam waktu sangat singkat. Reaksi eksplosif ini akan membebaskan sejumlah energi yang sangat besar. Dalam skala yang besar, reaksi ini mampu menghancurkan benda-benda yang berada dalam radius daya ledaknya. Reaksi inilah yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan ledakan bom.
Reaksi peledakan ini biasanya berlangsung dengan adanya katalis. Katalis inilah yang menyebabkan suatu reaksi kimia berlangsung dengan cepat. Katalis adalah suatu zat yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi tanpa memodifikasi perubahan energi gibbs standar dari suatu reaksi (Admin Alif, 2005).
Platina merupakan salah satu contoh katalis yang digunakan untuk mempercepat terjadinya reaksi antara hidrogen dan oksigen dalam fasa gas. Dari reaksi ini dapat menyebabkan ledakan.
Dari beberapa literatur, diketahui bahwa katalis dapat menghasilkan atom hidrogen dari molekul hidrogen dan atom ini akan menyebabkan terjadinya reaksi rantai yang sangat cepat.
Disamping katalis, reaksi peledakan juga bisa terjadi jika ada nyala api, seperti nyala dari korek api, dan sebagainya. Nyala api ini dapat menjadi pemicu terbentuknya radikal bebas. Dalam suatu mekanisme reaksi, radikal bebas ini dapat menyebabkan reaksi bercabang yang menghasilkan lebih dari satu radikal. Jika reaksi radikal ini terjadi dalam jumlah yang banyak, maka jumlah radikal bebas dalam suatu reaksi akan meningkat. Akhirnya reaksi akan berlangsung sangat cepat dan akan dibebaskan energi yang sangat besar. Selanjutnya terjadilah ledakan.
Albert Einstein pernah memperkenalkan kepada dunia mengenai hubungan antara energi dengan massa dan kecepatan suatu benda yang dikenal dengan persamaan E = M.C2. Jika kita hubungkan dengan reaksi peledakan diatas, didapatkan suatu kesimpulan bahwa suatu reaksi peledakan akan semakin besar jika massa reaktan (zat yang mengalami reaksi) digunakan dalam jumlah besar dengan adanya kecepatan yang sangat tinggi. Einstein mendefinisikan kecepatan disini adalah kecepatan cahaya yang dikuadratkan. Dari penggunaan tersebut terjadinya ledakan yang dasyat.
Dalam skala laboratorium reaksi peledakan ini pun bisa diuji-cobakan. Dari berbagai literatur, di laboratorium terdapat banyak sekali zat-zat kimia yang jika dicampur dapat menyebabkan terjadinya ledakan. Meski ledakan yang terjadi tergolong kecil, namun secara prinsip hampir sama reaksi ledakan lainnya dalam skala besar. Tinggal kita memperbesar konsentrasinya saja. Selanjutnya agar terjadi ledakan, maka ditambahkanlah katalis atau nyala api untuk mempercepat terjadinya reaksi atau pembentukan radikal bebas. Akibatnya akan membebaskan sejumlah energi yang besar.

VITAMIN D KURANGI RESIKO KEMATIAN 28 Februari 2009

Posted by sarsidi in Beranda.
1 comment so far

Vitamin D Kurangi Risiko Kematian!
Riset terbaru dari Universitas Johns Hopkins menyimpulkan bahwa asupan vitamin D yang lebih besar mengurangi kemungkinan Anda meninggal dini.
Hasil sejumlah studi juga menunjukkan, kekurangan vitamin D meningkatkan risiko kematian hingga 26 persen. Vitamin D juga mengurangi tingkat kematian dari hampir semua jenis kanker termasuk kanker payudara, usus dan prostat.
Para periset juga menyimpulkan bahwa vitamin D membantu mencegah penyakit diabetes, ginjal dan kardiovaskular. Dokter penyakit dalam asal Atlanta, AS Reginald Fowler mengatakan, 80 persen pasiennya kekurangan vitamin krusial tersebut yang mempertahankan level darah normal dari kalsium dan fosfor di dalam tubuh.
Dr Fowler kerap melakukan skrining untuk vitamin D selama memeriksa pasiennya. Tes darah yang simpel bisa mengecek level vitamin D yang harus mencapai 30 nanogram per milimeter atau lebih.
Dikatakannya, orang yang kekurangan vitamin D bisa mengalami nyeri otot. Bahkan kekurangan vitamin D yang parah dan berlangsung lama bisa memicu penyakit rakhitis, pelemahan dan kerapuhan tulang.
“Ini bukan hal untuk dianggap main-main,” kata Dr Fowler seperti dilansir harian News.com.au, Kamis (26/2/2009).
Seperti diketahui sinar matahari membantu tubuh memproduksi vitamin D. Namun terlalu sering berjemur di bawah sinar matahari juga bisa meningkatkan risiko kanker kulit. Jadi makanan dan suplemen umumnya dipandang sebagai sumber terbaik vitamin D.
Untuk meningkatkan asupan vitamin D, makanlah lebih banyak makanan yang kaya vitamin D seperti ikan tuna, salmon, sereal, kacang-kacangan, jus jeruk dan susu. Bisa juga mengkonsumsi suplemen vitamin D-3 seperti cholecalciferol.

GURU EFEKTIF 11 Februari 2009

Posted by sarsidi in Beranda.
1 comment so far

20 Sikap guru efektif

Oleh syamsul hadi

Anda ingin belajar menjadi guru efektif? Apa saja prasyarat yang

harus dimiliki? Ciri-ciri di bawah ini mungkin dapat membantu Anda

mencari referensi untuk menjadi guru efektif.

1. Memiliki kadar pengetahuan yang maju di mata pelajaran
spesialisasinya.

Guru yang pengetahuannya sudah maju menghasilkan siswa yang nilainya
lebih bagus dalam tes standar. Guru yang menguasai wilayah mata
pelajarannya, lebih siap menjawab pertanyaan-pertanyan siswa dan
menjelasakan konsep secara lebih baik. Tidak gugup dan penjelasannya
tidak membingungkan.

2. Berpengalaman mengajar (paling sedikit tiga tahun).

Guru yang berpengalaman cenderung tahu lebih baik apa aktivitas dan
praktik mengajar yang harus dipakai saat mengajarkan konsep-konsep
tertentu. Dia juga lebih mampu mengindividualisir pelajaran agar
cocok dengan kebutuhan setiap siswa.

3. Ucapannya jelas.
Guru dengan kemampuan verbal tinggi dan punya kosakata luas cenderung
menghasilkan siswa yang dapat mengerjakan tes standar secara lebih
baik.

4. Antusias.
Jika anda menunjukkan antusiasme saat mengajar, maka akan memotivasi
siswa untuk belajar. Antusiasme dapat ditandai dengan penyampaian
vokal secara cepat dan bersemangat., dengan gerak tangan, kontak mata
yang bervariasi dan tingkat energi tinggi. Antusiasme guru juga
diikuti dengan meningkatnya penyimpanan memori di kalangan siswa.

5. Peduli
Tunjukkan kepedulian yang tulus.
Benar-benar memperhatikan kesehatan
dan kehidupan pribadi siswa. Berikap ramah dan mau mendengarkan
masalah siswa maupun orang tuanya. Sehingga suasana kelas terbangun
menjadi hangat dan siswa berani ikut terlibat mengambil keputusan.
guru peduli sering menghadiri ekstrakurikuler siswa, melihat kegiatan
konser atau pertandingan olah raga.

6. Ceria dan santai
Kepribadiannya amat baik karena menikmati kegembiraan dari
pekerjaannya sebagai pengajar. Ia berpartisipasi dalam kegiatan
dengan siswa, punya rasa humor yang baik dan akan sering tertawa
bersama siswa.

7. Siap bekerjasama dengan guru lain maupun orang tua siswa.

8. Berniat memperbaiki kecakapan mengajarnya dan memajukan
pendidikannya.

9. Kelasnya secara struktural teratur baik untuk memaksimalkan waktu
mengajar.

10.Menempelkan aturan pada dinding kelas.

11. Menempelkan karya semua siswa di dinding kelas.

12. Menjaga waktu transisi antar kegiatan sesedikit mungkin.

13. Masuk kelas dalam keadaan siap.

14. Dorongan positif.

15. Memonitor dan menangani gangguan kecil di kelas.

16. Suka berkeliling.

17. Mendisiplinkan siswa secara adil dan wajar

18. Menyampaikan harapan akademik yang tinggi.

19. Menunjukkan suatu tingkat perencanaan dan organisasi yang tinggi.

20. Mengajar berdasarkan teori dan praktik pendidikan yang kuat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.